Kenapa Kita Kadang Merasa Tidak Mengenal Diri Sendiri?

Pernah nggak kamu merasa sudah menjalani hidup bertahun-tahun, tetapi suatu hari tiba-tiba bertanya:

“Kok aku jadi seperti ini, ya?”

Bisa jadi setelah mengambil sebuah keputusan.

Bisa juga setelah bertengkar dengan seseorang.

Atau mungkin ketika melihat hidup orang lain dan tanpa sadar membandingkannya dengan hidup kita sendiri.

Ada sesuatu yang terasa tidak pas.

Kita tahu nama kita.
Tahu usia kita.
Tahu pekerjaan kita.
Tahu siapa keluarga dan teman-teman kita.

Tapi ketika ditanya:

“Sebenarnya kamu ingin hidup seperti apa?”

Kita justru diam.

Bukan karena tidak punya jawaban.

Mungkin karena selama ini kita terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa mengenal orang yang sedang menjalaninya.


Kita tumbuh bersama banyak suara

Sejak kecil, ada banyak suara yang ikut membentuk kita.

Suara orang tua.

Suara guru.

Suara teman.

Suara lingkungan.

Dan sekarang, suara media sosial.

“Anak pintar harus begini.”

“Orang sukses harus begitu.”

“Umur segini seharusnya sudah punya ini.”

“Kalau mau berhasil, harus seperti mereka.”

Sedikit demi sedikit, kita belajar mengikuti standar yang ada di sekitar kita.

Sampai akhirnya kita bisa sangat pandai menjawab pertanyaan:

“Apa yang seharusnya aku lakukan?”

Tetapi kesulitan menjawab:

“Apa yang sebenarnya aku inginkan?”


Kita sering menjalani hidup dengan mode otomatis

Bangun.

Sekolah atau bekerja.

Pulang.

Bermain dengan ponsel.

Tidur.

Besok mengulang lagi.

Tidak ada yang salah dengan rutinitas.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjalani semuanya tanpa pernah berhenti bertanya:

“Apakah hidup yang sedang aku jalani ini memang hidup yang ingin aku jalani?”

Kadang kita memilih bukan karena ingin.

Tetapi karena terbiasa.

Kita mengambil jurusan karena teman mengambilnya.

Menerima pekerjaan karena gajinya bagus.

Mengejar sesuatu karena semua orang menganggapnya sukses.

Bahkan terkadang kita mempertahankan hubungan hanya karena takut memulai kembali.

Lama-lama, kita menjadi sangat sibuk memenuhi kehidupan yang diharapkan orang lain sampai lupa mendengar apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri sendiri.


Ada juga bagian diri yang belum pernah kita beri kesempatan untuk muncul

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengenal dirinya sejak kecil.

Ada anak yang sejak awal selalu dibandingkan.

Ada yang terlalu sering dimarahi ketika mencoba sesuatu.

Ada yang tumbuh dengan kalimat:

“Jangan begitu.”

“Kamu nggak bisa.”

“Kamu harus seperti kakakmu.”

“Itu bukan untuk kamu.”

Akhirnya, anak belajar bukan hanya tentang dunia.

Ia juga belajar menyembunyikan bagian-bagian dirinya agar diterima.

Ketika dewasa, ia mungkin terlihat baik-baik saja.

Tetapi di dalam dirinya masih ada pertanyaan:

“Kalau aku tidak perlu memenuhi harapan siapa pun, sebenarnya aku ingin menjadi siapa?”


Mengenal diri membutuhkan keberanian

Karena terkadang jawabannya tidak selalu menyenangkan.

Mungkin kita menemukan bahwa selama ini kita terlalu sering mengatakan “iya” padahal sebenarnya ingin berkata “tidak”.

Mungkin kita sadar bahwa kita mengejar sesuatu hanya karena ingin mendapatkan pengakuan.

Mungkin kita menyadari bahwa kita ternyata tidak bahagia dengan jalan yang selama ini kita pilih.

Atau mungkin kita menemukan bahwa selama ini kita terlalu keras kepada diri sendiri.

Mengenal diri berarti bersedia melihat semua itu.

Bukan untuk menyalahkan diri.

Tetapi untuk berkata:

“Baik. Sekarang aku sudah melihatnya. Lalu apa yang ingin aku lakukan setelah ini?”


Kita tidak harus langsung mengubah semuanya

Mengenal diri bukan berarti besok pagi kita harus resign.

Bukan berarti harus pindah jurusan.

Bukan berarti harus meninggalkan semua yang sudah dibangun.

Tidak selalu begitu.

Kadang perubahan pertama hanya berupa kesadaran kecil.

“Ternyata aku seperti ini.”

Lalu kita mulai memperhatikan.

Apa yang membuat kita bersemangat?

Apa yang membuat kita lelah?

Dengan siapa kita merasa menjadi diri sendiri?

Kapan kita merasa paling tenang?

Apa yang sebenarnya kita anggap penting?

Dan apa yang selama ini kita lakukan hanya karena takut mengecewakan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu bisa menjadi jalan pulang kepada diri sendiri.


Mungkin kita tidak kehilangan diri

Kadang kita mengatakan:

“Aku sudah tidak tahu siapa diriku.”

Tetapi mungkin diri kita tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya terlalu lama tidak didengarkan.

Tertutup oleh tuntutan.

Tertutup oleh ketakutan.

Tertutup oleh penilaian.

Tertutup oleh keinginan untuk menjadi seperti orang lain.

Karena itu, mungkin kita tidak selalu membutuhkan seseorang untuk memberi tahu:

“Kamu harus menjadi seperti ini.”

Mungkin yang kita butuhkan adalah ruang yang cukup aman untuk bertanya:

“Kalau semua suara di luar sana kita diamkan sebentar, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan tentang dirimu?”


Mulai dari satu pertanyaan

Tidak perlu menjawab semuanya hari ini.

Cukup satu.

Apa satu hal tentang dirimu yang selama ini belum benar-benar kamu pahami?

Tulis.

Pikirkan.

Bicarakan dengan seseorang yang kamu percaya.

Amati dalam kehidupan sehari-hari.

Karena mengenal diri bukan pekerjaan satu malam.

Ia adalah proses panjang untuk semakin memahami:

siapa kita, bagaimana kita bekerja, apa yang kita butuhkan, apa yang kita yakini, dan manusia seperti apa yang ingin kita tumbuhkan dalam diri kita.

Dan mungkin, semakin kita mengenal diri, kita tidak menjadi seseorang yang benar-benar berbeda.

Kita hanya menjadi lebih jujur dalam menjalani diri yang selama ini sudah ada.


Ruang Kenal percaya bahwa setiap orang layak memiliki kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.

Bukan untuk menjadi sempurna.

Bukan untuk mendapatkan sebuah label.

Tetapi agar kita bisa menjalani hidup dengan lebih sadar.

Karena sebelum menemukan arah, terkadang kita memang perlu berhenti sebentar.

Dan berkenalan kembali dengan diri sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *