Tidak Semua yang Kita Inginkan Benar-Benar Kita Butuhkan

Ada banyak hal yang kita inginkan dalam hidup.

Ingin kuliah di tempat yang bagus.

Ingin punya pekerjaan yang keren.

Ingin punya penghasilan besar.

Ingin punya rumah sendiri.

Ingin dihargai.

Ingin dikenal.

Ingin memiliki kehidupan seperti orang yang kita lihat di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan keinginan.

Tetapi pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya:

“Aku benar-benar menginginkan ini, atau aku hanya belajar bahwa seharusnya aku menginginkannya?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi jawabannya kadang tidak mudah.


Kita belajar menginginkan sesuatu dari lingkungan

Sejak kecil, kita sudah mengenal banyak ukuran tentang keberhasilan.

Nilai tinggi.

Sekolah bagus.

Kuliah di kampus ternama.

Pekerjaan bergengsi.

Gaji besar.

Punya kendaraan.

Punya rumah.

Menikah.

Punya anak.

Kemudian hidup dianggap berhasil.

Tanpa sadar, kita menyusun daftar kehidupan yang “seharusnya” kita capai.

Masalahnya, daftar itu belum tentu dibuat oleh kita.

Sebagian mungkin berasal dari orang tua.

Sebagian dari teman.

Sebagian dari lingkungan.

Dan sekarang, sebagian lagi datang setiap hari melalui layar ponsel.

Kita melihat orang lain menjalani hidup tertentu.

Lalu mulai berpikir:

“Aku juga harus seperti itu.”

Padahal kita bahkan belum sempat bertanya:

“Apakah kehidupan seperti itu memang cocok untukku?”


Keinginan bisa datang dari perbandingan

Pernah melihat seseorang membeli sesuatu, lalu tiba-tiba kita merasa ingin memilikinya juga?

Sebelumnya kita baik-baik saja.

Tidak merasa kekurangan.

Tidak merasa perlu.

Tetapi setelah melihat orang lain memilikinya, tiba-tiba muncul perasaan:

“Aku juga mau.”

Begitu juga dengan kehidupan.

Teman mendapat pekerjaan baru.

Kita mulai merasa pekerjaan kita kurang.

Teman menikah.

Kita mulai merasa tertinggal.

Teman melanjutkan kuliah.

Kita mulai mempertanyakan pilihan kita.

Teman membangun bisnis.

Kita mulai merasa hidup kita tidak bergerak.

Padahal sebelumnya kita mungkin baik-baik saja.

Bukan karena hidup kita berubah.

Tetapi karena cara kita melihat hidup berubah setelah membandingkannya dengan hidup orang lain.


Tidak semua yang terlihat menarik akan membuat kita bahagia

Kita sering melihat hasil akhirnya.

Jarang melihat seluruh prosesnya.

Kita melihat seseorang sukses.

Tidak melihat malam-malam ketika ia harus bekerja.

Kita melihat seseorang punya bisnis.

Tidak melihat risiko dan kegagalannya.

Kita melihat seseorang kuliah di tempat impian.

Tidak melihat tekanan yang mungkin ia rasakan.

Kita melihat kehidupan seseorang dari beberapa foto, beberapa video, beberapa unggahan.

Lalu membandingkannya dengan kehidupan kita yang kita jalani setiap hari.

Itu tidak adil.

Bukan untuk mereka.

Dan terutama tidak adil untuk diri kita sendiri.


Lalu bagaimana membedakan keinginan dan kebutuhan?

Mungkin tidak ada rumus yang selalu benar.

Tetapi kita bisa mulai dengan bertanya:

Kalau tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku memiliki ini, apakah aku masih menginginkannya?

Pertanyaan kedua:

Kalau tidak ada yang memuji atau menganggapku berhasil, apakah aku tetap akan memilihnya?

Dan mungkin yang paling penting:

Apakah hal ini membuat hidupku lebih selaras dengan nilai yang aku yakini?

Tidak semua keinginan harus dibuang.

Justru kita perlu mengenali keinginan kita dengan jujur.

Tetapi setelah mengenalinya, kita bisa memilih:

mana yang memang ingin kita perjuangkan, dan mana yang sebenarnya hanya muncul karena kita membandingkan diri.


Ada keinginan yang memang layak diperjuangkan

Jangan salah memahami tulisan ini.

Bukan berarti kita harus hidup tanpa ambisi.

Bukan berarti mengejar pendidikan tinggi itu salah.

Bukan berarti ingin kaya itu salah.

Bukan berarti ingin punya karier bagus itu salah.

Keinginan bisa menjadi energi yang sangat baik.

Masalahnya bukan pada keinginan.

Masalahnya muncul ketika kita mengejar sesuatu tanpa pernah memahami alasan di baliknya.

Kita bisa mengejar uang.

Tetapi untuk apa?

Kita bisa mengejar jabatan.

Tetapi untuk apa?

Kita bisa mengejar popularitas.

Tetapi untuk apa?

Kita bisa mengejar pendidikan.

Tetapi untuk apa?

Semakin jelas alasan kita, semakin mudah membedakan antara sesuatu yang benar-benar penting dengan sesuatu yang hanya terlihat penting.


Mengenal diri membantu kita memilih

Di sinilah proses mengenal diri menjadi penting.

Ketika kita tahu apa yang kita nilai.

Ketika kita tahu apa yang membuat kita bertumbuh.

Ketika kita memahami cara kita bekerja.

Ketika kita mengenali kebutuhan diri.

Ketika kita tahu batas yang perlu dijaga.

Kita menjadi lebih mampu menentukan:

“Ini cocok untukku.”

atau:

“Ini bagus, tetapi belum tentu untukku.”

Dan kalimat kedua itu sebenarnya sangat membebaskan.

Karena sesuatu tidak harus buruk hanya karena kita memilih untuk tidak mengambilnya.

Sebuah jurusan bisa bagus.

Tetapi belum tentu cocok untuk kita.

Sebuah pekerjaan bisa bergengsi.

Tetapi belum tentu sesuai dengan kehidupan yang ingin kita jalani.

Sebuah pilihan bisa terlihat sempurna bagi orang lain.

Tetapi belum tentu menjadi pilihan yang tepat bagi kita.


Hidup bukan perlombaan untuk memiliki semuanya

Ada masa ketika kita merasa harus mengejar semuanya sekaligus.

Harus pintar.

Harus sukses.

Harus punya uang.

Harus punya pasangan.

Harus punya rumah.

Harus punya pencapaian.

Harus terlihat bahagia.

Padahal hidup bukan daftar tugas yang harus kita selesaikan sebelum umur tertentu.

Setiap orang punya waktunya sendiri.

Setiap orang punya keadaan yang berbeda.

Setiap orang memiliki jalan yang berbeda.

Dan mungkin salah satu bentuk kedewasaan adalah ketika kita mulai bisa berkata:

“Aku tidak harus memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk merasa cukup dengan hidupku.”


Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak pilihan

Kita hidup di zaman dengan pilihan yang begitu banyak.

Jurusan semakin banyak.

Pekerjaan semakin beragam.

Bisnis semakin mudah dimulai.

Informasi hampir tidak terbatas.

Tetapi semakin banyak pilihan tidak selalu membuat kita semakin mudah menentukan arah.

Kadang justru sebaliknya.

Kita semakin bingung.

Karena masalahnya bukan kurangnya pilihan.

Masalahnya kita belum cukup mengenal siapa yang sedang memilih.

Ketika kita mengenal diri dengan lebih baik, kita mungkin tidak lagi membutuhkan seribu pilihan.

Kita hanya membutuhkan beberapa pilihan yang benar-benar masuk akal bagi diri kita.


Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan?

Mungkin malam ini kamu bisa mencoba duduk sebentar.

Tanpa membuka media sosial.

Tanpa membandingkan hidupmu dengan siapa pun.

Lalu tanyakan:

Kalau tidak ada yang menilai, aku ingin menjalani hidup seperti apa?

Apa yang sebenarnya penting bagiku?

Apa yang sedang aku kejar karena memang aku inginkan?

Dan apa yang sedang aku kejar hanya karena takut dianggap tertinggal?

Tidak perlu langsung menemukan jawabannya.

Cukup mulai bertanya.

Karena terkadang kita tidak membutuhkan jawaban yang lebih banyak.

Kita membutuhkan pertanyaan yang lebih jujur.


Pada akhirnya, mengenal diri bukan berarti kita akan selalu tahu pilihan mana yang paling benar.

Tetapi kita menjadi lebih sadar tentang alasan di balik pilihan kita.

Dan ketika suatu hari kita harus memilih jalan yang sulit, setidaknya kita tahu:

mengapa kita memilih jalan tersebut.

Karena hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan.

Mungkin hidup lebih dekat dengan belajar memahami:

apa yang benar-benar berarti bagi kita, apa yang layak diperjuangkan, dan apa yang dengan tenang boleh kita lepaskan.

Sebab tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.

Dan tidak semua yang tidak kita miliki berarti kita kehilangan sesuatu.

Kadang, ketika kita mengenal diri lebih dalam, kita justru menemukan bahwa selama ini kita sudah memiliki banyak hal yang sebenarnya kita butuhkan.

Selamat datang di Ruang Kenal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *