Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Ada masa dalam hidup ketika kita mulai ditanya:
“Mau kuliah di mana?”
“Mau ambil jurusan apa?”
“Nanti mau jadi apa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut justru membuat bingung.
Bukan karena tidak punya pilihan.
Justru karena terlalu banyak pilihan, sementara kita sendiri belum benar-benar mengenal siapa diri kita.
Kita akhirnya memilih karena ikut teman.
Memilih karena jurusannya dianggap bagus.
Memilih karena orang tua menginginkan.
Memilih karena katanya peluang kerjanya besar.
Lalu beberapa tahun kemudian muncul pertanyaan:
“Sebenarnya, ini yang aku mau atau bukan?”
Sejak kecil kita terbiasa mencari jawaban.
Nilai bagus → berarti pintar.
Masuk sekolah favorit → berarti berhasil.
Masuk jurusan populer → berarti masa depan aman.
Mendapat pekerjaan bagus → berarti hidup sudah berada di jalan yang benar.
Padahal hidup tidak sesederhana itu.
Seseorang bisa mendapatkan apa yang dianggap baik oleh banyak orang, tetapi tetap merasa tidak sedang menjalani hidupnya sendiri.
Karena arah hidup bukan hanya tentang ke mana kita pergi.
Arah juga tentang:
siapa yang sedang berjalan menuju ke sana.
Sebelum bertanya “Aku mau jadi apa?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar:
“Aku ini siapa?”
Mengenal diri sering dipahami secara sederhana.
“Aku orangnya pendiam.”
“Aku suka bertemu orang.”
“Aku pintar matematika.”
“Aku tidak suka berbicara di depan umum.”
Padahal mengenal diri jauh lebih luas daripada itu.
Kita perlu belajar memahami:
Karena ketika kita mulai memahami diri, kita tidak lagi sekadar bertanya:
“Apa yang bagus untuk aku pilih?”
Tetapi mulai bertanya:
“Apa yang selaras dengan diriku?”
Itulah perbedaannya.
Ada kekhawatiran ketika seseorang mulai mengenal dirinya melalui berbagai alat atau pendekatan:
“Jangan-jangan nanti saya malah dilabeli.”
Kekhawatiran itu masuk akal.
Hasil sebuah tes seharusnya tidak membuat seseorang berkata:
“Saya memang begini, jadi saya tidak bisa berubah.”
Sebaliknya, pemahaman tentang diri seharusnya membantu kita berkata:
“Oh, ternyata aku punya kecenderungan seperti ini. Lalu bagaimana aku bisa mengelolanya dengan lebih baik?”
Termasuk ketika menggunakan STIFIN.
STIFIN dapat menjadi salah satu alat untuk membantu seseorang mendapatkan perspektif tentang dirinya. Tetapi hasil tes bukanlah keseluruhan diri seseorang.
Manusia jauh lebih luas daripada sebuah hasil tes.
Yang penting bukan hanya mengetahui hasilnya.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita lakukan setelah mengetahuinya.
Di sinilah sering terjadi kekeliruan.
Ketika anak SMA bingung memilih jurusan, kita langsung memberikan daftar:
“Kalau kamu suka ini, masuk jurusan A.”
“Kalau kamu pintar matematika, ambil B.”
“Kalau mau kerja cepat, ambil C.”
Padahal mungkin yang perlu dilakukan sebelumnya adalah berhenti sebentar.
Kenali anaknya.
Bagaimana cara dia belajar?
Apa yang membuatnya hidup?
Apa yang membuatnya kehilangan energi?
Bagaimana cara dia memproses informasi?
Apa yang dia anggap penting?
Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Setelah itu barulah pilihan mulai dibicarakan.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar:
“Memilih jurusan yang tepat.”
Tetapi:
“Membantu seseorang membuat pilihan yang lebih sadar tentang hidupnya.”
Mungkin kamu sekarang sedang berada di fase hidup ketika belum tahu mau ke mana.
Tidak apa-apa.
Kamu tidak harus langsung menemukan seluruh jawaban.
Kadang langkah pertama bukan menemukan tujuan akhir.
Kadang langkah pertama hanya:
berhenti sejenak dan mulai mengenal siapa dirimu.
Dari sana, perlahan kita bisa memahami apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan, apa yang perlu kita kembangkan, dan jalan seperti apa yang mungkin sesuai untuk kita.
Arah tidak selalu ditemukan sekaligus.
Kadang arah ditemukan sambil berjalan.
Tetapi berjalan akan terasa berbeda ketika kita mulai mengenal siapa diri kita yang sedang berjalan.
Ruang Kenal lahir dari sebuah keyakinan sederhana:
Sebelum membantu seseorang menentukan ke mana ia akan pergi, kita perlu membantunya mengenal siapa dirinya.
Di sini kita akan membicarakan tentang diri, manusia, relasi, pilihan, pendidikan, keluarga, dan arah hidup.
STIFIN menjadi salah satu alat yang bisa digunakan untuk membantu proses mengenal diri.
Tetapi perjalanan mengenal diri tidak berhenti setelah membaca satu hasil tes.
Karena mengenal diri bukan sebuah acara satu hari.
Ia adalah perjalanan.
Dan mungkin, setiap perjalanan yang baik memang perlu dimulai dari satu pertemuan:
pertemuan dengan diri sendiri.
Selamat datang di Ruang Kenal.
Mengenal diri. Memahami hidup. Menemukan arah.