Mengenal Diri Bukan Berarti Mencari Kekurangan dan Kelebihan

Ketika mendengar kata mengenal diri, mungkin yang pertama terlintas adalah:

“Apa kelebihan saya?”

Lalu dilanjutkan dengan:

“Apa kekurangan saya?”

Kita membuat daftar.

Saya pandai berbicara.
Saya tidak pandai matematika.
Saya mudah bergaul.
Saya gampang gugup.
Saya kreatif.
Saya kurang disiplin.

Selesai.

Seolah-olah setelah menemukan beberapa kelebihan dan kekurangan, kita sudah selesai mengenal diri.

Padahal mungkin…

mengenal diri jauh lebih luas daripada itu.


Kita bukan sekadar kumpulan kelebihan dan kekurangan

Bayangkan seseorang berkata:

“Saya orangnya tidak percaya diri.”

Apakah itu benar-benar menjelaskan siapa dirinya?

Belum tentu.

Mungkin ia tidak percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang, tetapi sangat percaya diri ketika mengerjakan sesuatu yang ia kuasai.

Mungkin ia terlihat pendiam di lingkungan baru, tetapi bisa sangat banyak bicara ketika bersama orang-orang yang membuatnya nyaman.

Mungkin ia tidak suka memimpin sebuah kelompok, tetapi sangat mampu mengambil keputusan ketika bekerja sendiri.

Kalau kita hanya menggunakan kata kelebihan dan kekurangan, kita mudah sekali menyederhanakan manusia.

Padahal manusia tidak selalu sama dalam setiap keadaan.

Kita dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, orang-orang di sekitar kita, dan banyak hal lain.

Karena itu, mengenal diri bukan hanya bertanya:

“Apa yang aku bisa?”

Tetapi juga:

“Dalam keadaan seperti apa aku bisa menjadi diriku yang terbaik?”


Kita sering salah memahami kelemahan

Ada hal-hal dalam diri yang sejak kecil mungkin kita anggap sebagai kekurangan.

Terlalu banyak berpikir.

Terlalu sensitif.

Terlalu hati-hati.

Terlalu banyak bertanya.

Terlalu pendiam.

Terlalu bersemangat.

Tetapi apakah semuanya benar-benar kekurangan?

Belum tentu.

Seseorang yang banyak berpikir mungkin membutuhkan waktu lebih lama sebelum mengambil keputusan.

Tetapi bisa jadi ia juga mampu melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Seseorang yang sensitif mungkin lebih mudah terluka.

Tetapi bisa jadi ia juga lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Seseorang yang banyak bertanya mungkin dianggap merepotkan.

Tetapi bisa jadi ia memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Sesuatu yang menjadi tantangan dalam satu keadaan, bisa menjadi kekuatan dalam keadaan yang lain.

Itulah mengapa kita perlu berhati-hati ketika memberi label kepada diri sendiri.


Tapi bukan berarti semua kelemahan harus dianggap sebagai kekuatan

Ini juga penting.

Mengenal diri bukan berarti mencari pembenaran.

Kalau kita mudah marah, bukan berarti:

“Memang begitulah karakter saya.”

Kalau kita tidak disiplin, bukan berarti:

“Saya memang bukan tipe orang yang disiplin.”

Kalau kita sulit mendengarkan orang lain, bukan berarti:

“Saya memang seperti itu.”

Pemahaman tentang diri seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh.

Justru sebaliknya.

Ketika kita tahu sebuah kecenderungan dalam diri yang membuat kita kesulitan, kita bisa mulai belajar mengelolanya.

Mengenal diri bukan untuk membenarkan diri.

Mengenal diri adalah langkah awal untuk mengelola diri.


Ada perbedaan antara menerima diri dan menyerah pada diri

Menerima diri bukan berarti mengatakan:

“Ya sudah, aku memang begini.”

Menerima diri bisa berarti:

“Aku tahu bagian ini ada dalam diriku. Aku tidak perlu membencinya. Tapi aku juga tidak harus membiarkannya mengendalikan hidupku.”

Ada hal yang mungkin tidak bisa kita ubah.

Ada hal yang membutuhkan waktu untuk berubah.

Dan ada hal yang sebenarnya bisa kita latih sedikit demi sedikit.

Mengetahui perbedaannya membuat kita lebih berdamai dengan diri sendiri.

Kita tidak lagi sibuk membenci diri karena belum menjadi seperti yang kita inginkan.

Tetapi juga tidak berhenti bertumbuh hanya karena merasa:

“Inilah aku.”


Kita juga perlu mengenal kebutuhan diri

Ada orang yang terlihat sangat mandiri, tetapi sebenarnya membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Ada orang yang senang bekerja bersama banyak orang, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk sendiri.

Ada orang yang senang dengan tantangan.

Ada yang justru berkembang ketika memiliki struktur yang jelas.

Ada yang membutuhkan banyak waktu untuk berpikir sebelum menjawab.

Ada yang justru menemukan pikirannya ketika berbicara dengan orang lain.

Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua orang.

Karena itu, pertanyaan:

“Apa yang aku butuhkan agar bisa bertumbuh?”

sering kali lebih berguna daripada:

“Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain?”


Mengenal diri juga berarti memahami cara kita bekerja

Kita bisa mulai memperhatikan hal-hal sederhana.

Ketika mendapatkan masalah, apakah kita langsung mencari solusi?

Atau perlu memahami semuanya terlebih dahulu?

Ketika belajar sesuatu, apakah kita lebih mudah memahami lewat praktik?

Atau lewat membaca dan berpikir?

Ketika harus mengambil keputusan, apakah kita membutuhkan waktu sendiri?

Atau justru perlu berdiskusi dengan orang lain?

Ketika berada di lingkungan tertentu, apakah energi kita bertambah?

Atau justru cepat terkuras?

Tidak ada jawaban yang otomatis lebih baik.

Yang penting adalah kita mengenal pola diri kita sendiri.

Berbagai alat asesmen dapat membantu memberikan sudut pandang tambahan tentang pola tersebut.

STIFIN, misalnya, dapat menjadi salah satu alat untuk membantu seseorang melihat kecenderungan cara kerja dirinya.

Tetapi sekali lagi, hasilnya bukan sebuah vonis.

Ia lebih tepat dipandang sebagai cermin tambahan untuk membantu kita melihat diri.

Setelah melihat cermin itu, tetap kitalah yang menentukan bagaimana ingin bertumbuh.


Jangan buru-buru ingin menjadi orang lain

Kita hidup di zaman ketika melihat kehidupan orang lain sangat mudah.

Kita melihat teman yang sudah kuliah di tempat bagus.

Melihat orang lain mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.

Melihat seseorang yang tampak sangat percaya diri.

Melihat orang yang bisnisnya berkembang.

Melihat keluarga orang lain yang terlihat begitu harmonis.

Lalu tanpa sadar kita berkata:

“Kenapa aku tidak seperti dia?”

Padahal kita sedang membandingkan kehidupan kita yang sebenarnya dengan kehidupan orang lain yang hanya kita lihat sebagian.

Mungkin kita tidak perlu menjadi seperti mereka.

Mungkin yang perlu kita lakukan adalah memahami:

“Kalau aku menjadi versi terbaik dari diriku sendiri, seperti apa bentuknya?”


Mengenal diri adalah proses melihat diri dengan lebih utuh

Bukan hanya melihat apa yang bagus.

Bukan hanya melihat apa yang kurang.

Tetapi melihat semuanya dengan lebih jujur.

Kekuatan.

Kelemahan.

Kebutuhan.

Kebiasaan.

Kecenderungan.

Nilai yang kita pegang.

Hal-hal yang membuat kita hidup.

Hal-hal yang membuat kita kehilangan energi.

Dan bahkan bagian-bagian diri yang selama ini mungkin kita hindari.

Semakin utuh kita melihat diri, semakin mudah bagi kita untuk mengambil keputusan dengan sadar.

Bukan karena kita sudah sempurna.

Tetapi karena kita lebih tahu siapa yang sedang membuat keputusan tersebut.


Mungkin tujuan akhirnya bukan menjadi “lebih hebat”

Mungkin tujuan mengenal diri bukan agar suatu hari kita bisa mengatakan:

“Aku sudah menemukan semua kelebihanku.”

Mungkin bukan itu.

Mungkin tujuan akhirnya jauh lebih sederhana:

kita bisa berdamai dengan siapa diri kita, memahami apa yang perlu dikembangkan, dan menjalani hidup dengan lebih sadar.

Karena setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.

Dan kita tidak harus menjalani perjalanan orang lain hanya karena jalannya terlihat lebih indah.

Kita punya jalan sendiri.

Tetapi untuk berjalan dengan baik di jalan itu, mungkin kita perlu mengenal orang yang akan berjalan bersama kita sepanjang hidup.

Diri kita sendiri.

Dan mungkin…

itulah salah satu alasan mengapa kita perlu memiliki Ruang Kenal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *