Sebenarnya, Aku Ini Orang yang Seperti Apa?

Pernah nggak kamu berada di tengah banyak orang, tapi tiba-tiba merasa:

“Aku sebenarnya orang seperti apa, sih?”

Kamu mungkin tahu hal-hal tentang dirimu.

Tahu makanan yang kamu suka.
Tahu musik yang sering kamu dengarkan.
Tahu teman-teman yang membuatmu nyaman.
Tahu pelajaran yang kamu sukai atau tidak sukai.

Tapi ketika pertanyaannya berubah menjadi:

“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dalam hidup?”

Jawabannya mungkin tidak lagi sesederhana itu.


Kita sering mengenal diri dari kata orang lain

Sejak kecil, kita mendapatkan banyak sekali “cerita” tentang diri kita.

“Kamu anaknya pemalu.”

“Kamu itu keras kepala.”

“Kamu pintar.”

“Kamu nggak cocok memimpin.”

“Kamu terlalu sensitif.”

“Kamu harus seperti kakakmu.”

Lama-lama, tanpa sadar kita mulai mempercayai cerita tersebut.

Bukan karena kita sudah benar-benar mengenal diri.

Tapi karena orang lain sudah lebih dulu memberi nama pada diri kita.

Dan semakin sering sebuah label diberikan, semakin mudah kita menganggapnya sebagai kebenaran.

Padahal mungkin…

kita tidak pernah benar-benar memeriksanya.


Ada perbedaan antara “siapa aku” dan “apa yang pernah terjadi padaku”

Ini bagian yang sering luput.

Pernah gagal bukan berarti kamu adalah orang gagal.

Pernah malas bukan berarti kamu orang yang malas.

Pernah takut berbicara bukan berarti kamu tidak mampu berbicara.

Pernah salah memilih bukan berarti seluruh keputusanmu akan salah.

Kita sering mengambil satu bagian dari perjalanan hidup, lalu menjadikannya identitas.

Padahal manusia terus bertumbuh.

Apa yang terjadi pada kita adalah bagian dari cerita kita.

Tetapi itu tidak selalu menjadi definisi tentang siapa kita.


Lalu bagaimana cara mulai mengenal diri?

Mungkin tidak perlu dimulai dengan pertanyaan yang terlalu besar.

Coba mulai dari hal-hal sederhana.

Apa yang membuatmu merasa hidup?

Bukan sekadar senang.

Tetapi aktivitas yang membuatmu merasa:

“Aku menikmati ketika melakukan ini.”

Kemudian tanyakan:

Apa yang biasanya membuat energimu terkuras?

Dalam situasi seperti apa kamu merasa paling nyaman?

Bagaimana kamu biasanya mengambil keputusan?

Ketika menghadapi masalah, apa yang pertama kali kamu lakukan?

Apa yang sebenarnya penting bagimu, meskipun orang lain menganggapnya tidak penting?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin tidak langsung memberikan jawaban.

Tetapi ia membuka pintu.

Dan mengenal diri memang sering kali dimulai dari berani bertanya kepada diri sendiri.


Kita juga perlu melihat diri dari berbagai sisi

Tidak ada satu cara yang cukup untuk memahami manusia.

Pengalaman hidup memberikan satu perspektif.

Percakapan dengan orang yang mengenal kita memberikan perspektif lain.

Refleksi memberikan perspektif lain lagi.

Dan berbagai alat asesmen kepribadian juga dapat membantu kita melihat kecenderungan tertentu dalam diri.

STIFIN, misalnya, dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk membantu seseorang memahami bagaimana kecenderungan cara berpikir dan memproses informasi dalam dirinya.

Tetapi lagi-lagi:

alat adalah alat.

Ia membantu kita melihat.

Ia bukan sesuatu yang berhak menentukan seluruh hidup kita.

Karena setelah kita mendapatkan pemahaman tentang diri, pertanyaan berikutnya tetap ada:

“Lalu, dengan pemahaman ini, aku mau menjadi seperti apa?”


Mengenal diri bukan mencari versi diri yang sempurna

Mungkin ini yang paling penting.

Tujuan mengenal diri bukan supaya kita menemukan:

“Oh, ternyata aku hebat.”

Bukan juga supaya kita menemukan:

“Oh, ternyata aku punya banyak kekurangan.”

Tujuannya adalah melihat diri dengan lebih jujur.

Tahu kekuatan tanpa menjadi sombong.

Tahu kelemahan tanpa membenci diri.

Tahu kecenderungan tanpa merasa terpenjara olehnya.

Dan ketika kita mulai mengenal diri dengan lebih jujur, kita bisa mulai mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Bukan karena semua orang melakukannya.

Bukan karena takut mengecewakan orang lain.

Bukan karena ingin terlihat berhasil.

Tetapi karena kita mulai memahami:

“Ini pilihanku. Dan aku tahu kenapa aku memilihnya.”


Mungkin kamu belum menemukan jawabannya

Kalau hari ini kamu masih bertanya:

“Aku sebenarnya orang seperti apa?”

Tidak apa-apa.

Pertanyaan itu tidak harus langsung memiliki jawaban.

Mungkin justru pertanyaan itulah awal dari perjalananmu.

Pelan-pelan kenali dirimu.

Perhatikan bagaimana kamu berpikir.

Perhatikan apa yang membuatmu bertumbuh.

Perhatikan apa yang membuatmu kehilangan diri sendiri.

Dengarkan pengalamanmu.

Belajar dari kesalahanmu.

Dan sesekali, berhenti dari semua suara di luar sana untuk mendengarkan suara dari dalam dirimu sendiri.

Karena mungkin selama ini bukan kamu yang tidak punya arah.

Mungkin kamu hanya terlalu lama berjalan tanpa sempat berkenalan dengan orang yang sedang menjalani perjalanan itu.

Dirimu sendiri.

Dan mungkin, perkenalan itu bisa dimulai hari ini.

Selamat datang kembali di Ruang Kenal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *